Revenge - Bab 1


Bab I

“Pergi kau, dasar anak haram!!” ejek seorang anak  sambil melempar batu.

“Ya, liat saja rambutnya berbeda dengan kita” tambah anak lainnya, ikut melempar batu.

Seorang bocah berlari, menjauhi sekumpulan anak yang melempar batu padanya. Dia tidak menangis. Kesekian kalinya, dia tidak bisa bermain dengan anak lainnya.

 Dirinya tak mengerti maksud perkataan mereka. Yang ia tahu, mereka semua termasuk dirinya adalah anak-anak. Dan ibunya bilang, semua anak-anak itu bermain bersama.

~Apa karena rambutku?  

Hitam. Warna rambut khas para pribumi. Itulah yang tidak dimilikinya, ia berambut pirang. Sangat berbeda dan mencolok sekali. Dia selalu jadi pusat perhatian orang-orang. Aneh, karena anak berambut pirang berkeliaran di tempat pribumi.

Hanya para bangsawan atau yang para pribumi sebut sebagai penjajah, yang memiliki rambut seperti itu. Hubungan gelap bangsawan yang memperbudak wanita pribumi. Hasilnya, seorang anak terlahir sebagai anak haram. Itu sangkaan anak-anak lain pada dirinya.

Akhirnya ia kembali ke rumahnya. Rumah kecil bermodel sama dengan rumah lainnya. Ciri khas bagi pribumi yang tinggal di perumahan khusus. Jalan ataupun tata letak bangunan pun tak ada yang istimewa. Jika dilihat dari atas, maka terlihat seperti garis kotak-kotak.

“Bu,bu.. Mereka mengejekku lagi, katanya aku anak haram karena rambutku berbeda.” keluh anak itu sambil menarik-narik rok ibunya.

Seorang wanita berdiri di depan wajan, ia sibuk memasak makan siang. Mendengar keluhan anaknya, ia langsung tersenyum. Menatap anak semata wayangnya.

Ibu yang penuh kasih sayang. Senyuman hangat adalah senjata andalannya. Anaknya itu selalu kembali dengan keluhan yang sama.

Sejak ia membesarkan anaknya seorang diri, semua orang menjauhinya. Melempar banyak tuduhan padanya. Dan yang paling sering mengenai anaknya. Rambut yang berbeda, hingga banyak orang menganggapnya keturunan bangsawan atau anak haram. Sebelumnya dia memang bekerja di tempat bangsawan, tapi dia tidak pernah melakukan apapun.

Dalam hatinya, ia selalu yakin. Tidak semua orang mengetahui kebenaran, jadi tak masalah apapun yang mereka katakan.

Demi anaknya, dia harus tegar.

“Kita makan siang dulu ya” ucapnya mengalihkan pembicaraan.

Anak itu langsung mengangguk, seperti lupa dengan keluhannya sendiri.

-DUARR!!!

Suara ledakan keras terdengar, diikuti getaran gempa kecil. Sontak saja, anak itu langsung memeluk ibunya. Kaget karena tak pernah mendengar suara itu. Dia gemetar ketakutan.

“Pasukan penjajah kembali !!” teriak beberapa orang di luar.

Suara tembakan terdengar nyaring. Teriakan kesakitan mulai memecah suasana siang itu.

Negeri ini memang sudah ditaklukan oleh pasukan penjajah sebelumnya. Dan bangsawan lah yang kemudian bertindak sebagai pejabat dari daerah jajahan. Tapi, pasukan penjajah tak pernah datang kembali. Mereka sibuk memenangkan peperangan untuk memperluas kekuasaan di negeri lainnya.

Hanya beberapa tentara dan polisi yang menjaga keamanan. Itu pun sudah cukup. Mengawasi pribumi bukan hal sulit. Semua pribumi sudah tunduk pada penjajah. Pasukan penjajah sebelumnya sudah memastikan, mempangkas habis semua kemungkinan terjadinya pemberontakan.  Beberapa senjata canggih juga dipasang di banyak tempat. Lebih memastikan, pribumi tetap diam.

Jika pasukan penjajah kembali, artinya ada sesuatu yang harus mereka urus. Pastinya itu bukan hal baik bagi pribumi.

Terakhir pasukan penjajah datang, mereka memborbardir segalanya. Mereka pergi setelah mereka puas. Meninggalkan tumpukan mayat dijalanan, serta bangunan-bangunan yang hancur. Dengan dalih, menumpas pemberontakan yang ada.

Pribumi benar-benar tidak bisa berbuat banyak. Semua yang melawan. Bisa dipastikan ada dijalanan. Tak bisa bergerak, hanya terbujur kaku di tempat.


“Eli, kita harus pergi dari sini.” ucap seorang wanita yang berlari masuk ke dalam rumah.

Pintu yang terbuka memudahkannya untuk masuk. Celana jeans wanita itu terlihat lusuh, bajunya pun tak jauh berbeda. Wanita itu seusia ibunya. Dia habis berlari, jelas ia kelelahan. Nafasnya masih terengah-engah.

Sejenak anak itu memperhatikan dua wanita dewasa itu. Tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Seperti berdebat, namun ibunya selalu membalas pelan penuh kelembutan.

“Rian, kamu pergi dengan bibi Elfrida ya.” ucap ibunya.

Ia tetap tersenyum saat mengatakan hal itu.  

Anak itu hanya menatap ibunya, kemudian mengangguk. Selama ini dia selalu menuruti perintahnya. Jika dia sadar akan maksud sebenarnya, pastinya ia tak akan mau menurutinya.

Elfrida mengulurkan tangannya dan menggendong anak itu.

“Eli, apa kau yakin dengan hal ini?”

“Kita tidak punya pilihan lain. Kau harus membawanya pergi. Maaf, karena telah merepotkanmu selama ini.” jawab ibunya disertai senyuman hangatnya.

“Maafkan aku… kalau begitu aku pergi.” ucap Elfrida, berlari keluar dari rumah itu tanpa melihat kebelakang lagi.

Langkahnya terasa berat. Dia sudah menyangka, saat ini pasti datang.

‘Selamat tinggal, Eli’ ucap Elfrida dalam hati.

Anak itu hanya bengong, masih belum mengerti. Ia melihat ibunya dari pundak wanita yang menggendongnya.

Saat itu ia masih melihat ibunya. Masih tersenyum.


Komentar

  1. awal yang bagus, tuluykeun bro!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks, tiap hari cerita ini di update...
      Check Bab Selanjutnya,

      Hapus
  2. Bab I cmn 700 kata,
    Untuk bab selanjutnya pasti lebih panjang kok,
    Selamat membaca ;D
    Jangan lupa Kritik N Saran ny >.<

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

just need to write

1 thing,

Read first, Blog apaan sih?